Home » » Khutbah Idul Adha 1443 H,

Khutbah Idul Adha 1443 H,

 

Khutbah Idul Adha 1443 H / 2022 M "HAKEKAT QURBAN"

Hi. Muhammad Thaib Mokobombang, M.H

 

الله اكبر… الله اكبر… الله اكبر… لااله الاالله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد

 َاللهُ اكبَر كَبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا, لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه, مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن, وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون, وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن, وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن, لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه, صَدَق ُوَعْدَه, وَنَصَرَ عبْدَه, وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه, لاالهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُ وَِللهِ الحمد.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ . َأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللهم صل وسلم عَلَيْ محمد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ. أوصيكم وإياي بتقوي الله لعاكم ترحمون . قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: [يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ]

 

Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi Hamdu

Jama’ah Sidang Ied. Rahimakumullah

·           Maha Suci Allah, yang telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

 

·           Maha Kuasa Allah, yang telah menciptakan alam semesta sebagai tempat hidup bagi ummat manusia dan tempat untuk berkarya mencari ridha-Nya.

·           Maha Adil dan bijaksana Allah dalam membagi rizki dan hidayah-Nya. Hanya saja, manusia tidak pernah puas dan enggan mensyukuri nikmat rizki-Nya, serta selalu menghindar dari hidayah-Nya.

 

ALLAHU-AKBAR .... daripada-Nya kita datang di dunia ini dan kehadirat-Nya kita akan berpulang kelak. Marilah kita agungkan Dia melalui asma-Nya, kita syukuri segala nikmat karunia-Nya, kita panjatkan puja dan puji kehadirat-Nya, seraya kita kukuhkan hati dan pikiran untuk memohon ampunan atas ridha-Nya. Serta bersyukur atas BerkahNya yang telah menganugerahkan kita Daerah yang kita cintai  Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Daerah yang Subur,  Pemimpin yang Amanah, Tegas dan Merakyat. Daerah Bolsel yang sebentar lagi akan merayakan Hari Ulang Tahun Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan ke 14, wabil khususu dalam pembukaan Khutbah ini kami bermunajad keharibaanMu ya Robb,

Tumbukan Semangat Solidaritas diantara kami masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan untuk Bersatu Bergerak Maju menuju TERWUJUDNYA KABUPATEN BOLSEL YANG BERSATU, BERDAULAT, MANDIRI, SEJAHTERA DAN BERKEPRIBADIAN DENGAN SEMANGAT GOTONG ROYONG DAN BERDASARKAN PANCASILA’

Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi Hamdu

Jama’ah Ied. Rahimakumullah

Semenjak matahari terbenam sore kemarin, sampai hari ini dan terus hingga selama hari-hari tasyrik, gema takbir - tahlil - tahmid kembali berkumandang memenuhi ruang angkasa sebagai tanda bahwa ummat Islam di seluruh penjuru dunia sementara merayakan hari ibadah besar Idul Adha, dan pada pagi ini – kita yang berada di tempat ini telah bersama-sama melaksanakan shalat Ied. – sujud dan ruku’ sebagai tanda ketaatan kita yang membuktikan bahwa kita adalah manusia yang sadar akan hakekat keberadaanNya, sebagai makhluk yang tidak berarti apa-apa dihadapan sang Khaliq.

Pada kesempatan ini marilah kita telusuri makna yang dikandung dalam peristiwa disyari’atkannya ibadah Haji dan Qurban sebagai suatu kewajiban bagi kaum muslimin di alam semesta persada ini,

Pertama, derajat atau kedudukan yang dimiliki umat manusia pada hakekatnya adalah pemberian Allah semata, yang pasti akan diikuti oleh ujian dari-Nya. Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s pun diuji Allah. Oleh karena itu, kita sebagai manusia hendaklah sadar dan ingat akan kedudukan dan derajat keberadaan kita karena pasti ada ujian yang mengikuti derajat dan kedudukan tersebut. Namun dibalik ujian itu, Allah membimbing kita agar tetap menghadapi ujian tersebut dengan keta’atan dan keihlasan yang penuh, tanpa sedikitpun berprasangka terhadap Allah dan tetap berpijak pada garis ketetapan Allah, sebagaimana yang telah diteladankan oleh nabi Ibrahim a.s sewaktu menerima ujian dari Allah – bukan jusrtu malah sebaliknya, yakni kita berprasangka buruk terhadap Allah dan mencari tempat-tempat selain Allah untuk dapat menyelesaikan ujian yang kita hadapi, yang jelas-jelas menurut kacamata Islam adalah syirik.

Kedua, keihlasan dan keta’atan Nabi Ibrahim a.s mewakili generasi tua, dalam melaksanakan perintah Allah harus diteladani. Sekalipun harus mengorbankan keinginan pribadi dan keluarganya, apalagi Ismail a.s adalah anak kesayangan yang lama dirindukan kehadirannya. Namun karena Nabi Ibrahim a.s faham bahwa apa yang akan dikerjakan adalah perintah Allah, maka tetap dikerjakannya dengan penuh keta’atan dan keihlasan. Keteladanan Nabi Ibrahim a.s selaku orang tua patut dijadikan perhatian serius bagi generasi orang tua saat ini, sebagai gambaran sosok pemimpin kaum, kelompok sekaligus pemimpin keluarga yang tegak keyakinan, teguh pemikiran dan tegar pendirian. Sudah merupakan satu kodrat apabila sosok bapak sebagai kepala keluarga harus menjadi pimpinan rumah tangganya, sehingga dialah yang lebih berwewenang sekaligus bertanggung jawab terhadap corak dan warna dalam keluarga tersebut. Maka tak pantas dan bahkan menyalahi kodrat manakala dia justru dikuasai dan diatur oleh istri dan atau anak-anaknya. Keberhasilan nabi Ibrahim a.s dalam mengatur dan mengendalikan keluarganya, yang menjadikan dia diangkat oleh Allah sebagai pemimpin ummat, bahkan kerisalahannya terus dilestarikan sebagai salah satu ibadah besar sampai kepada kita - ummat nabi Muhammad SAW. yaitu ibadah haji dan berkurban yang senantiasa dilaksanakan setiap tahun oleh kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia. Dari kenyataan ini dapat kita ambil satu gambaran bahwa keberhasilan dalam memimpin keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan memimpin ummat.

Ketiga, keta’atan, keihlasan dan kesetiaan Siti Hajar sebagai seorang istri sekaligus sebagai seorang ibu harus dijadikan teladan bagi kaum perempuan dari zaman ke zaman. Ia telah memberikan gambaran sosok perempuan yang lemah dalam kodratnya, tetapi kuat dalam memegang prinsip keyakinan terhadap perintah Allah SWT. Siti Hajar adalah profil istri yang tidak suka  menentang  suami,  tidak boros dan  tidak  suka  bergabung  dengan perempuan-perempuan yang suka membicarakan aib orang lain. Ia adalah sosok ibu yang senantiasa memelihara dan menjaga kehormatan keluarganya.

Keempat, keta’atan dan keihlasan nabi Ismail a.s mewakili generasi muda dalam melaksanakan perintah Allah patut pula menjadi contoh dan teladan bagi kaum muda saat ini. Walau dalam usia yang masih relatif muda, Ismail a.s telah menampakkan kematangan dalam berfikir dan kedewasaan dalam bertindak – padahal saat itu tehnologi masih sangat terbatas, informasi masih sangat terkebelakang, Ia sadar bahwa apa yang akan dilaksanakan oleh bapaknya terhadap diriya, semata-mata adalah perintah Allah yang diyakini secara bersama-sama, bahwa perintah tersebut harus mereka laksanakan. Nabi Ismail a.s bukanlah sosok pemuda yang cinta dunia, bukan sosok pemuda yang senang hura-hura, juga bukan sosok pemuda yang suka mengandalkan kekuasaan dan kekayaan orang tua. Ismail adalah sosok pemuda yang rela berkorban nyawa demi tegaknya kebenaran ajaran Allah. Keteladanan pemuda Ismail harus dijadikan sebagai suatu renungan bagi kaum muda masa kini, yang pada gilirannya harus dinyatakan dalam bentuk pelaksanaan aktifitas yang bermanfaat bagi orang banyak, namun tidak terlepas dari nilai-nilai ibadah.

Kelima, komunikasi yang sangat demokratis dan sikap toleransi yang penuh antara generasi Tua (pemimpin) dengan generasi muda (penerus) dalam hal pelaksanaan perintah Allah, patut pula dijadikan contoh dan teladan bagi kelangsungan hidup dalam keluarga dan masyarakat. Budaya toleransi dan tidak memaksakan kehendak tercermin dalam QS. Ash-Shaffaat ayat 102 tentang percakapan antara nabi Ibrahim a.s dengan nabi Ismail a.s. yang Artinya :

Nabi Ibrahim a.s memanggil dengan panggilan sayang kepada Ismail : “yaa bunayya…..” wahai anakku, kemudian Ibrahim menyampaikan pendapatnya dan meminta kepada Ismail untuk memikirkan pendapat tersebut.  Nabi Ismail a.s. pun menjawab dengan kata-kata hormat kepada Ibrahim : “yaa abatiy……” wahai bapakku, kemudian Ismail menjawab dengan tegas bahwa pendapat bapaknya benar dan dia siap melaksanakan pendapat tersebut. Subhaanallah, ini merupakan suatu pelajaran demokrasi yang paling berharga bagi kita untuk diteladani di dalam menjalankan kehidupan, baik dalam berkeluarga maupun dalam bermasyarakat. Sungguh nabi Ibrahim a.s dan nabi Ismail a.s telah mencontohkan sikap demokrat sejati, karena semua kehidupan mereka dilandaskan pada pemahaman yang utuh tentang nilai keihlasan dan keta’atan. Refleksi atas kisah tersebut diatas pada masa kini telah kita peringati secara ritual dengan melaksanakan perjalanan ibadah haji ke tanah suci Mekah dan Medinah bagi yang telah memenuhi kesanggupan untuk melaksanakan perjalanan tersebut menyembelih hewan qurban bagi mereka yang hanya mampu dengan berqurban dan berpuasa pada hari Arafah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang sama sekali tidak mampu, melakukan perjalanan haji maupun menyembelih hewan qurban. Akan tetapi kenyataan yang dapat disaksikan saat ini adalah keadaan yang masih jauh dari apa yang telah dicontohkan oleh nabi Ibrahim a.s dan nabi Ismail a.s. Masih banyak manusia yang menganggap bahwa ujian dari Allah sebagai suatu musibah atau bencana terhadap dirinya dan tidak dikembalikannya ujian itu kepada Allah dalam wujud berserah diri dan melaksanakan keta’atan atas segala aturan Allah. Akhirnya ia berpaling dari jalan yang lurus menuju jalan yang penuh kebimbangan dan mengganggu ketenangan hidupnya.

Dalam kondisi inilah manusia akan menjadi egois, mementingkan diri sendiri atau akan berkelompok dengan orang-orang yang seide atau sama seperti dirinya. Sosok manusia seperti ini apabila menjadi salah satu anggota pimpinan dalam rumah tangga, maka yang menjadi korban adalah anak dan keturunannya, Sosok seperti inilah yang melahirkan sikap enggan dikritik, enggan diingatkan dan enggan melaksanakan aturan-aturan Allah, bahkan ia akan alasan-alasan baru untuk melindungi dan menyelamatkan dirinya.

Adapun dalam hal berqurban, masih banyak pula kita saksikan orang- orang yang sebenarnya telah mampu berqurban yang terbukti memiliki barang-barang perhiasan dunia yang dimilikinya, yang sebanding dengan nilai atau harga hewan qurban, akan tetapi mereka enggan untuk menunaikannya. Sungguh suatu kenyataan yang sangat tidak etis menurut konteks ajaran Islam manakala sebuah resepsi diupayakan mewah dan sangat meriah sedangkan ibadah qurban dibuat sepi atau dilewatkan begitu saja sebagai kegiatan rutinitas keagamaan, padahal Rasulullah telah bersabda dalam sebuah haditsnya bahwa : “Barang siapa yang telah memiliki kesempatan untuk berqurban tetapi ia tidak melakukannya, maka janganlah ia mendekati tempat shalat ini”. Hadits ini merupakan kecaman keras bagi mereka yang telah memiliki kemampuan namun tidak menunaikannya, orang-orang yang demikian sebenarnya dilarang oleh Rasulullah untuk mendekati tempat shalat atau masjid..

Kenyataan akan fenomena ini perlu dijadikan bahan peringatan bagi kita semua di dalam menjalankan kehidupan ini. Setidaknya, bila kita tidak mampu pergi haji, maka marilah kita berqurban, dan apabila kitapun tak mampu berqurban, maka marilah kita tunaikan sunah puasa hari Arafah sebagai bukti keta’atan dan keihlasan kita terhadap aturan-aturan Allah yang disyariatkan kepada kita.

Pesan moral yang dikandung pada  ibadah haji dan berqurban adalah nilai-nilai ke Tuhanan yang harus disosialisasikan tatanannya di muka bumi ini dalam bentuk kehidupan yang penuh kedamaian dan kesejahteraan yang didasari atas keimanan dan keadilan serta menjunjung tinggi nilai hukum.

Akhirnya, dalam kesempatan Iedul Adha ini marilah kita mengintrospeksi diri, kemudian kita tata kembali fungsi dan hakekat keberadaan kita di muka bumi ini sebagai wujud dari rasa dan nurani diri kita akan moral dan nilai-nilai kemanusian yang senantiasa dibimbing dan dipelihara Allah Swt.

Mulai hari ini sampai selesainya hari tasyrik, jutaan suara takbir, tahlil dan tahmid berkumandang membelah bumi Allah meruntuhkan singgasana kerajaan Iblis yang terkutuk – jutaan langkah manusia menjelajahi tanah suci merefleksikan kembali kisah besar dalam menghadapi ujian iman yang berat – jutaan hewan ternak dikorbankan dalam prosesi ini dalam rangka melestarikan perjuangan satu ibadah besar - jutaan kilogram daging yang siap memberi manfaat dalam tubuh manusia dan jutaan liter darah yang mengalir sebagai bukti kemenangan yang kesemuanya itu adalah saksi suci akan nilai dan makna suatu perjuangan sejati menuju keridha’an Illahi.

Akhirnya, Mari Kita Berdoa dan Sebelum kita berdo’a, marilah kita merenung sejenak akan satu hal yang ringan dan mudah difikirkan serta dapat kita jadikan satu perbandingan kecil, satu sindiran dari makhluk yang bernama hewan, yaitu :

Kalau hewan ternak saja rela berkorban demi tegaknya hukum Allah, mengapa kita kaum yang berpikir – enggan untuk melakukannya ?.

 

Semoga Allah Swt. masih membuka pintu tobat dan menerima permohonan maaf kita semua. Marilah kita merapikan cara duduk, menyatukan perasaan untuk tunduk tafakkur dihadapan-Nya, bersama-sama berdo’a :

Yaa Allah Tuhan yang Maha Pengasih Penyayang, ridhailah kami dalam kasih sayang-Mu agar kami dapat saling mengasihi, cinta-mencintai dan saling tolong-menolong dalam mengarungi samudera kehidupan-Mu.

Yaa Allah Tuhan yang Maha Pengampun, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa para pemimpin kami yang shaleh, dosa sanak- saudara, keluarga, tetangga, kerabat serta sahabat-sahabat kami. Tuntunlah kami dengan hidayah-Mu setelah datangnya ampunan-Mu, agar kami senantiasa gemar bermohon pengampunan kepada-Mu.

Yaa Allah Tuhan yang Maha Kuasa, lindungilah orang tua, keluarga, sahabat, serta seluruh ummat-Mu yang seiman dalam ajaran-Mu wabil khusus jamaah Haji Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan yang saat ini tengah menunaikan ibadah di rumah-Mu Makkatul-Mukarramah. Bimbinglah mereka agar mereka menjadi suci dengan kesucian-Mu, menjadi teladan yang terpuji karena mereka telah menyempurnakan pujian kepada-Mu. Jadikanlah ibadah haji mereka adalah haji yang mabrur sesuai ketetapan-Mu

Yaa Allah Tuhan yang Maha Bijaksana, tambahkan umur dan mudahkanlah rizki bagi kami agar kami dapat memenuhi panggilan syari’at- Mu untuk melaksanakan ibadah haji di rumah-Mu, Yaa Allah, sungguh banyak dosa yang kami perbuat. Saat ini kami sepakat untuk tobat atas kesalahan dan dosa dosa tersebut, baik yang kami sengaja maupun  tidak kami sengaja, maka terimalah tobat dan kabulkanlah do’a serta permohanan kami.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Wabil khusus kepada Bapak Hi Herson Mayulu SIP, Allahu Yarham yang telah menorehkan Karya terbaiknya di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Terimalah segala amal kebaikan Beliau ya Robb, dan tempatkan Beliau di tempat yang terbaik di Akhirat Nanti Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat.

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami karena ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami karena ia menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

Allahumma ya Rabbi, ampunilah segala dosa dan kesalahan kedua orang tua kami, Ibu dan Bapak kami yang telah mengasuh, mendidik dan membesarkan kami dengan segala kepayahan dan penderitaan. Tanpa kami sadari ya Allah, begitu banyak dosa kedurhakaan yang kami perbuat kepada mereka. Begitu sering kami menyakiti hati dan meneteskan air mata mereka. Sungguh begitu besar dosa dan kesalahan kami kepada mereka. Karena itu ya Allah, ampunilah mereka, kasihanilah mereka, terimalah segala amal bakti mereka dan tempatkanlah mereka di sisiMu sebagai golongan orang-orang yang beruntung.

Allahumma Ya Allah, berilah kesabaran kepada kami atas kebenaran, keteguhan dalam menjalankan perintah, akhir kesudahan hidup yang baik dan ‘afiyah dari setiap musibah, bebas dari segala dosa, keuntungan dari setiap kebaikan, keberhasilah dengan surga  dan keselamatan dari api neraka, wahai dzat yang Maha Pengasih.

Allahumma ya Rahman ya Rahiim, besarkanlah kami ummat Islam sebagaimana besar dan agungnya hari raya Idul Adha 1443 H ini, agar kami dapat senantiasa menegakkan kalimat : Laa ilaaha illa llahu di seluas hamparan ciptaMu.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Amin ….. Amin …… Amin ….. yaa rabbal aalamiin

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh



 

Share this article :


 
Support : mTm | Kota Molibagu | 2014
Copyright © 2013. Muh Thaib Mokobombang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by mTm
Proudly powered by mTm